Senin, 11 Mei 2020

Menyulam Aksara Dalam Bingkia Prestasi








MIMPI DI KOTA HUJAN
Aku duduk sambil menopang dagu diteras rumah pagi itu, pikiranku melayang-layang, memikirkan berbagai macam hal yang ku suka maupun yang tidak disukai. Memang inilah kebiasaanku, berfikir tentang macam-macam hal. Ada yang nyata, ada juga yang hanya khayalanku semata.
“Hai.....pasti berkhayal lagi deh”. Tegur ibu sambil menepuk kedua bahuku. “Hati-hati kesembet lho” ibu tersenyum.
“iih,ibu! Jangan ngomong aneh-aneh deh! Putri takut nih!”. Aku memasang bibir”cemberut dusta”. Hehe....
“Menurut ibu saat besar nanti, putri bisa jadi komunikus terkenal sampai mancanegara nggak?”.
“Mmm, yah, kalau putri memang punya tekad yang kuat, rajin belajar, dan berusaha serta berdoa. Ibu yakin banget, putri bisa bikin banyak komik dan di jual ke banyak negara!”. Nada ibu sedikit meninggi.
Iya bu., sekarang putri mau ke Jalan Padjajaran ya, mumpung masih pagi, udara masih segar, bisa dapat banyak ide buat komik baru.!” Aku beranjak dari kursi dan mencium pipi ibu.
“Sayang.....ibu mau nitip, tolong belikan sabun mandi ya.. aroma jeruk, nih uangnya. Makasih putri sayang.” Ibu memberikan selembaran uang lima puluh ribu rupiah.
Oke, ibu sayang.., aku tersenyum lebar seraya masuk ke kamarku. Mengambil sebuah buku sketsa, kotak pensil, kamera digital, lalu memasukan semuanya ke dalam tas kecil, termasuk uang dari ibu.
“Hati-hati sayang...jangan lupa sabunnya!”
Aku berjalan santai menuju jalan padjajaran bogor. Pagi itu, sudah dipadati oleh beberapa pedagang kaki lima di sisi jalan, juga beberapa kendaraan bermotor. Aku duduk di tepi jalan sambil mempersiapkan peralatan menggambarku sebelum mulai menggambar, aku sempat membaca buku dan memotret beberapa sudut jalanan juga beberapa objek yang menarik hatiku. Mulai dari gedung-gedung, hotel, para pejalan kaki, maupun kumpulan pedagang kaki lima. Lalu, aku mulai menggoreskan ujung pensilku di atas buku sketsa. Tiap goresan pensil yang kubuat selalu menciptakan seulas senyum di bibirku, aku menikmati semuanya pagi ini. Pemandangan kota Bogordi pagi hari, kermaiannya yang sudah memadati jalan, juga apa yang tengah ku lakukan sekarang, membaca dan menggambar.
Setelah selesai, aku berseru puas sambil memandang gambarku yang baru selesai ku buat. Seorang gadis berrambut hitam dan memakai gaun merah, tersenyum ke arah orang yang melihatnya.
Aku membereskan peralatan menggambar, lalu beranjak menuju toko serba ada. Aku bersenandung kecil, sambil milih-milih sabun mandi pesanan ibu. Banyak sekali pilihannya di sini. Aduh, jadi bingung nih!.
“Sepertinya yang ini aja deh...harganya juga nggak mahal”. Aku membawa sabun mandi dengan bungkus berwarna biru menuju meja kasir. Si penjaga kasir tersenyum saat melihatku berjalan ke arahnya. Aku membalas senyumnya sambil meletakan sabunnya di atas meja kasir.
“Ada yang lain, Dik.” Tanyanya.
Tidak, pak itu saja,aku menjawab cepat.
Totalnya dua puluh delapan ribu rupiah, penjaga kasir itu memasukan sabunku ke dalam kantung plastik. Lalu, aku memberikan uang dari itu tanpa berkata sedikitpun. Uangnya lima puluh ribu ya, kembaliannya dua puluh duan ribu . terima kasih , ujar si penjaga kasir dengan ramah dan sambil tersenyum padaku .
Aku berlari kecil menuju rumah. Ahhhhh....lama-lama, cape juga sih!. Tapi, aku mau cepat-cepat sampe rumah , ibu pasti sudah menunggu ku. Tapi, langkahku berhenti di depan sebuah toko buku dan alat tulis yang menjual berbagai macam buku bacaan dan alat gambar. Perhatianku tertuju pada peralatan membuat komik di rak deretan depan dan buku komik yang sepertinya seru kalau di baca. Di situ sepanjang satu set penggaris dengan berbagai macam bentuk, penggrais 40 cm, 3 buah pensil 2B, penghapus karet super bersih, tinta hitam dan kuasnya, tiga buah pena menggambar dengan ukuran yang berbeda dan buku dengan warna mencolok hijau muda.
Aku mau sekali membeli buku komik dan peralatan itu, maklum aku hanya punya dua buah pensil, penghapus yang sudah hampir habis, juga sebuah penggaris yang sudah patah. Tapi, harganya pasti mahal. Iseng-iseng aku masuk ke dalam toko itu, lalu melihat harganya.
Wah, total Cuma empat puluh lima ribu. Seruku saat melihat harganya yang tertera di baliknya. Pak, harganya memang buku dan alat-alat tulis harganya empat puluh liam ribu rupiah?, tanyaku pada penjaga kasir.
Oh..itu harga promo Dik, minggu depan harganya sudah naik jadi enam puluh ribu rupiah. Ooh..., makasih pak. Aku segera meletakan buku dan satu set peralatan membuat komik di tempatnya semula, lalu berlari pulang.
Assalmualaikum bu, aku teriak sambil membuka pintu rumah.
Ya sayang, sabunnya tidak lupa kan? ibupun menagihnya sambil mencium keningku.
Enggak donk bu! nih,sabunnya. Dan ini uang kembaliannya. Ibupun berkata, uang kembaliannya buat putri saja.
Benar nih bu? Makasih, aku memeluk ibu, lalu masuk ke kamarku. Aku memasukan uang kembalian sabun mandi ibu ke dalam celengan. Aku bertekad tabungan ini untuk membeli buku dan peralatan komik tadi ! lalu, aku kembali ke ruang tamu menemani ibu.
Bu, di dekat toserba ada toko buku dan alat tulis  yang menjual satu set peralatan ngomik. Putri mau deh, beli peralatan ngomik itu.
“Harganya berapa, sayang?”tanya ibu sambil membelai rambutku.
Empat puluh ribu rupiah, bu. Tapi, itu harga promo. Minggu depan harganya sudah naik lagi jadi enam puluh ribu, jawabku pelan.
Putri sudah nabung belum? Udah bu, jawab putri.
Tapi baru uang sisa kembalian yang di kasih ibu tadi. Oh iya, bu. Ko naskah komik yang putri kirim tempo hari ke penerbit, belum ada kabarnya ya? Putri jadi deg degan nih. Sudah berkali-kali putri kirim komik, tapi belum ada satupun komik putri yang diterima. “Apakah putri tidak bakat jadi komikus ya?”. Aku memeluk ibu.
Tenang sayang, gambar Putri bagus kok! Ibu suka baca semua komik buatan Putri . mungkin penerbit itu belum memilih komik putri, karena yang mengirim banyak tidak hanya Putri saja. Ribuan orang diseluruh indonesia juga mengirim komik karya mereka ke penerbit. Ibu tersenyum tulus dan menatapku dengan tatapan lembut.
Tapi..., kapan komik Putri bisa diterbitkan? Teman Putri sudah berhasil membuat empat komik ! tapi, Putri? Satupun belum. Aku memeluk ibu semakin erat. Aku menyembunyikan kepalaku di dalam pelukannya.
“Putri sayang..., kamu nggak perlu sedih. Kita tunggu saja, komik yang Putri kirim baru-baru ini, ibu selalu mendoakan putri lho!”
Makasih ya, bu. Aku mencium pipi ibu.

Tiga bulan kemudian.
“Assalamualaikum, bu. “ aku membuka pintu rumah dan melepas sepatu yang masih melekat di kakiku.
“Wassalamualaikum, Sayang. Putri, coba lihat apa yang ibu dapat!”. Ibu menunjukan secarik surat dari penerbit cerpen anak bintang. Ibu sengaja belum membukanya menunggu sampai penulisnya pulang sekolah!hehe.!”. Ibu tersenyum lebar, lalu duduk di sofa bersamaku.
Kali ini, aku yang membuka suratnya. Kreek! Aku merobek ujung surat tersebut dan mengeluarkan isinya.
Sekarang, Putri yang bacakan ya, bu.
Iya komikus cantik.., ibu mengacak-ngacak rambutku.

“Helo Putri, kami mengucapkan selamat kepada Putri Syafira Nurul Hawa sebagai penulis naskah komik berjudul “Mimpi Besarku” yang akan kami terbitkan. Selanjutnya, Putri akan disebut sebagai penulis. Dan penerbit cerpen anak cerdas akan di sebut sebagai penerbit. Mohon untuk di isi surat perjanjian naskah yang tertera di balik halaman ini.”.

Alhamdulillah ibu, naskahku lolos seleksi aku kegirangan, lalu memeluk ibu. Makasih ibu sayang. Ibu selalu mendukung semua kegiatan Putri.
Lalu, aku dan ibu mengisi surat perjanjian penerbit naskah dengan teliti. Esoknya, kami mengirimkan surat perjanjian naskah itu kembali kepada penerbit cerpen anak cerdas.
Hari yang aku, ibu dan ayah tunggu-tunggu itupun tiba. Seorang tukang pos datang ke rumahku dan melempar sebuah paket yang terbungkus dengan bungkusan coklat pada sabtu pagi di bulan september. Aku membawanya masuk, kemudian ayah dan ibu bersama-sama membuka paket itu bersamaku.
Dua buah komik berjudul Mimpi Besarku tertidur manis di dalamnya. Sampulnya kelihatan begitu segar dan nama Putri Syafira Nurul Hawa tertulis di sana. Sampul dengan gadis berambut hitam , mengenakan gaun merah, memegang sebuah buku diary dan tersenyum ke arah orang yang melihatnya.
Aku menahan air mataku. Air mata haru dan bahagia.
Syukur alhamdulillah ya Rabb. Bagus sekali komik ini, aku memeluk kedua komik itu.
“Selamat ya, sayang. Semoga komikmu yang selanjutnya bisa diterbitkan lagi.” Ibu tersenyum bangga.
Selamat ya, komikus cantik ayah. Ayah merangkul dan mencium keningku. Bu, uang yang ditransfer dari penerbit ke rekening ibu, boleh Putri ambil buat beli buku dan peralatan ngomik yang pernah putri ceritakan, ya? Ya, boleh dong sayang.., itu kan uang Putri, ibu memelukku.
“Makasih bu !”alhamdulillah, semua memang akan indah pada waktunya.
 Itulah mimpi di kota hujan, Bogor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar