Senin, 11 Mei 2020

GO TO 2020



LAKI-LAKI DALAM RERUNTUHAN CERMIN
Sudah bertahun-tahun ku nikmati sunyi ini sendiri, sampai akhirnya datang sebuah surat yang mampu mengubah segalanya. Masa lalu yang kerap kali orang menyebutnya dengan kenangan, kini sedikit demi sedikit mulai berdatangan. Aku tiba-tiba saja dihinggapi kerinduan yang mendalam. Rindu masa kecil, rindu kampung halaman, rindu pematang sawah dan yang terpenting aku merindukan naynyian ibu kala malam mulai melebarkan sayapnya.
Malam larut, rembulan menggantung. Cahayanya semar menembus rimbun pepohonan. Jalanan mengilat dan basah sehabis hujan sore tadi. Syafira berjalan sendiri, di atas jalan yang basah, di bawah cahaya rembulan. Baginya tidak ada yang berarti dari hidup ini selain tidur dan secangkir kopi. Sebab hari-harinya yang dilewati telah habis dengan memburu sesuatu yang tidak pasti. Detik-detik habis untuk mengejar berita. Peristiwa demi-peristiwa lewat menjadi catatan hariannya. Hanya sebuah catatan yang ditulis sekedar merampungkan rasa penasaran kaum yang kurang kerjaan. Kaum yang tidak punya kegiatan pada pagi hari. Kaum yang membutuhkan teman kopi atau yang membutuhkan bahan pembicaraan untuk sekedar omong kosong dan basa-basi.
Syafira tenggelam dalam lamunannya sepanjang perjalanan. Hidup hanya menunggu, penantian atas kematian itu. Dia menyadarai kelelahannya telah mencapai klimaks. Syafira rindu kebebasan . Dia ingin kembali ke masa lalu. Saat dia menjadi orang yang merdeka. Tidak dikehar-kejar deadline atau mengejar-ngejar narasumber. Semuanya mengalir. Tanpa harus bertanggung jawab pada apapun atau siapapun. Ya Allah ! Dengan Allah sekalipun Syafira telah berdamai. Dia tidak akan mengusik apapun tentang Allah, tentang matanya yang terlihat sipit sedang kulitnya tidak terlalu halus tentang giginya yang kurang lurus. Dan Allah melarang protes tentang apa yang akan dilakukannya. Syafira berdamai dengan dirinya. Dengan Allah SWT.
Laki-laki itu datang tepat ketika dirinya hampir-hampir menjadi gila. Laki-laki itu hadir tiba-tiba dalam hidupnya. Syafira tidak ingat bagaimana laki-laki itu telah menjadi bagian dari hidupnya. Bagian yang paling dalam dan tak mungkin terpisahkan. Ketampanan terpancar dari seluruh gerak tubuh laki-laki itu. Dari kata-kata yang keluar lewat bibirnya, dari rambutnya, bukan hanya ketampanannya, seluruh pribadinya adalah lambang ketampanan. Saat itu, syafira mulai berfikir untuk menerima pinangan laki-laki itu. Membangun rumah tangga bagi keluarga kecil mereka. Menjadikan dirinya benar-benar perempuan yang beruntung. Syafira ingin menjadi istri dari laki-laki itu dan ibu bagi anak-anaknya kelak.
Malam semakin larut, syafira dan laki-laki itu semakin hanyut dalam percakapan tentang diri dan hidup. Hingga saat dantang jam berbunyi satu kali, sedang pesta telah usai. Hari-hari berikutnya merupakan masa yang indah bagi syafira. Cinta telah merambahi jiwa dan sanubarinya. Tak ada hari tanpa rindu, syafira berburu pulang lebih awal denga laki-laki itu. Menikmati malam-malam bersama . syafira tak jadi mengundurkan diri. Laki-laki itulah yang mebuat Syafira yakin dengan jalan yang ditempuhnya, meski penat tak bisa di hindari. Syafira semakin memahami makna sebuah kerinduan, perjuangan, dan kebahagiaan dalam hidup.
Ada banyak harapan yang tumbuh dalam ruang batinnya. Ada banyak keinginan menjamur dalam kepalanya. Ada banyak cita-cita yang ingin diraihnya bersama laki-laki itu.
Dan malam ini, Syafira telah kehilangan laki-laki itu. Dia merasakan sepi yang teramat sangat. Sunyi menusuk-nususk kalbu. Syafira ingin menagis, tapi dia tak punya air mata lagi. Air matanya sudah lama kering. Sejak satu demi satu semua miliknya pergi. Syafira merasa bahwa mimpinya telah usai. Laki-laki itu telah kembali kedalam dunianya sendiri. Kini, syafira hanya mampu melihatnya kembali laki-laki itu dalam sebuah kotak cermin. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar