LAKI-LAKI
DALAM RERUNTUHAN CERMIN
Sudah
bertahun-tahun ku nikmati sunyi ini sendiri, sampai akhirnya datang sebuah
surat yang mampu mengubah segalanya. Masa lalu yang kerap kali orang
menyebutnya dengan kenangan, kini sedikit demi sedikit mulai berdatangan. Aku
tiba-tiba saja dihinggapi kerinduan yang mendalam. Rindu masa kecil, rindu
kampung halaman, rindu pematang sawah dan yang terpenting aku merindukan
naynyian ibu kala malam mulai melebarkan sayapnya.
Malam
larut, rembulan menggantung. Cahayanya semar menembus rimbun pepohonan. Jalanan
mengilat dan basah sehabis hujan sore tadi. Syafira berjalan sendiri, di atas
jalan yang basah, di bawah cahaya rembulan. Baginya tidak ada yang berarti dari
hidup ini selain tidur dan secangkir kopi. Sebab hari-harinya yang dilewati
telah habis dengan memburu sesuatu yang tidak pasti. Detik-detik habis untuk
mengejar berita. Peristiwa demi-peristiwa lewat menjadi catatan hariannya.
Hanya sebuah catatan yang ditulis sekedar merampungkan rasa penasaran kaum yang
kurang kerjaan. Kaum yang tidak punya kegiatan pada pagi hari. Kaum yang
membutuhkan teman kopi atau yang membutuhkan bahan pembicaraan untuk sekedar
omong kosong dan basa-basi.
Syafira
tenggelam dalam lamunannya sepanjang perjalanan. Hidup hanya menunggu,
penantian atas kematian itu. Dia menyadarai kelelahannya telah mencapai
klimaks. Syafira rindu kebebasan . Dia ingin kembali ke masa lalu. Saat dia
menjadi orang yang merdeka. Tidak dikehar-kejar deadline atau mengejar-ngejar
narasumber. Semuanya mengalir. Tanpa harus bertanggung jawab pada apapun atau
siapapun. Ya Allah ! Dengan Allah sekalipun Syafira telah berdamai. Dia tidak
akan mengusik apapun tentang Allah, tentang matanya yang terlihat sipit sedang
kulitnya tidak terlalu halus tentang giginya yang kurang lurus. Dan Allah
melarang protes tentang apa yang akan dilakukannya. Syafira berdamai dengan
dirinya. Dengan Allah SWT.
Laki-laki
itu datang tepat ketika dirinya hampir-hampir menjadi gila. Laki-laki itu hadir
tiba-tiba dalam hidupnya. Syafira tidak ingat bagaimana laki-laki itu telah
menjadi bagian dari hidupnya. Bagian yang paling dalam dan tak mungkin
terpisahkan. Ketampanan terpancar dari seluruh gerak tubuh laki-laki itu. Dari
kata-kata yang keluar lewat bibirnya, dari rambutnya, bukan hanya
ketampanannya, seluruh pribadinya adalah lambang ketampanan. Saat itu, syafira
mulai berfikir untuk menerima pinangan laki-laki itu. Membangun rumah tangga
bagi keluarga kecil mereka. Menjadikan dirinya benar-benar perempuan yang
beruntung. Syafira ingin menjadi istri dari laki-laki itu dan ibu bagi anak-anaknya
kelak.
Malam
semakin larut, syafira dan laki-laki itu semakin hanyut dalam percakapan
tentang diri dan hidup. Hingga saat dantang jam berbunyi satu kali, sedang
pesta telah usai. Hari-hari berikutnya merupakan masa yang indah bagi syafira.
Cinta telah merambahi jiwa dan sanubarinya. Tak ada hari tanpa rindu, syafira
berburu pulang lebih awal denga laki-laki itu. Menikmati malam-malam bersama .
syafira tak jadi mengundurkan diri. Laki-laki itulah yang mebuat Syafira yakin
dengan jalan yang ditempuhnya, meski penat tak bisa di hindari. Syafira semakin
memahami makna sebuah kerinduan, perjuangan, dan kebahagiaan dalam hidup.
Ada
banyak harapan yang tumbuh dalam ruang batinnya. Ada banyak keinginan menjamur
dalam kepalanya. Ada banyak cita-cita yang ingin diraihnya bersama laki-laki
itu.
Dan
malam ini, Syafira telah kehilangan laki-laki itu. Dia merasakan sepi yang
teramat sangat. Sunyi menusuk-nususk kalbu. Syafira ingin menagis, tapi dia tak
punya air mata lagi. Air matanya sudah lama kering. Sejak satu demi satu semua
miliknya pergi. Syafira merasa bahwa mimpinya telah usai. Laki-laki itu telah
kembali kedalam dunianya sendiri. Kini, syafira hanya mampu melihatnya kembali
laki-laki itu dalam sebuah kotak cermin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar