Senin, 11 Mei 2020

KU TEMUKAN ENGKAU DALAM DOA



Berawal dari sebuah mimpi menjadi sarjana. Ya, suatu hari nanti. Dia yakin kalau dia akan meraih cita-citanya kuliah di perguruan tinggi dan berfrofesi menjadi guru di sekolah/ataupun di lembaga pendidikan. Bukankah banyak orang yang sukses sebelumnya memiliki impian dahulu?
Sri bukanlah seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana, hari-harinya dia habiskan untuk belajar, beribadah dan membantu orang tua. Sejak kecil dia hobi membaca sehingga dia pun bertekad untuk melanjutkan sekolah ke tingkat pergurua tinggi, walaupun dia sadar bahwa utuk mencapai pendidikan tinggi butuh kerjakeras dan perjuangan besar. Tetapi dia sangat paham apa yang seharusnya dia lakukan, kegigihan yg selalu dia tanamkan di dalam hati membawanya ke dalam kebahagian. Sampai seluruh keluarga dan desanya bangga terhadap prsetasi nya yang telah diraih.
 Pagi itu desa jasinga begitu indah. Matahari baru sejengkal beranjak dari peraduannya. Udara terasa dingin menusuk tulang. Kabut tipis melayang-layang menambah elok pemandangan didesa . Sepagi itu suara hiruk pikuk suara penduduk dan binatang ternak telah terdengar disana sini. Pintu-pintu rumah penduduk telah terkuak. Rupanya penduduk telah bersiap-siap memulai hari baru mereka. Jalanan telah ramai dengan wanita-wanita desa yang berangkat ke pasar dengan keranjang besar diatas kepala berisi sayur atau buah-buahan. Sesekali melintas juga dijalan desa itu petani yang menggiring sapi atau kerbaunya dengan bajak di pundaknya. Disebelah rumah yang sederhana yang jauh dari jalan desa itulah Sri lahir dan dibesarkan. Rumahnya berdinding anyaman bambu yang sudah cukup tua, gentingnya tampak lapuk maklumlah Pak Bisri ayah Sri hanyalah seorang buruh tani dengan tujuh anak. Hari-harinya dihabiskan di sawah. Usia Pak Bisri 50 tahun. Pak Bisri menghabiskan waktunya untuk bekerja demi istri dan anaknya. Ia hampir tak pernah manghiraukan kesehatannya sendiri. Tak pernah disadari pula bahwa kemampuan bekerja seseorang akan mengalami masa surut bila masa pengolahan sawah selesai, Pak Bisri bisa mengisi waktunya dengan berkebun demi menyambung hidupnya.
Kehidupan keluarga Sri memang cukup memprihatinkan. Ayahnya menanggung hidup tujuh orang anak tanpa sejengkal tanah warisanpun. Hanya berbekal kejujuran dan semangat kerja yang tinggi, Pak Bisri mempertaruhkan kehidupan keluarganya. Karena kejujurannya itu Pak Iman, tetangga sebelah mempercayakan pengolahan sawahnya kepada Pak Bisri dengan imbalan seperlima dari seluruh hasil panennya. Pak Bisri selalu sibuk dengan sawah garapannya, apalagi masa garapan tiba. Meskipun demikian, ia masih harus mempekerjakan beberapa orang pembajak sawah, jika ia kerjakan sendiri dengan cangkulnya akan memakan waktu terlalu lama. Tanah garapan itu ada beberapa petak yang lumayan luas.
Apalah yang bisa di lakukan Sri untuk meringankan beban orangtuanya. Ia masih kecil utuk mengerti kesulitan-kesulitan hidup. Ia seorang anak periang, tegas, sekaligus berotak cemerlang. Setiap sore ia pergi ke surau disebrang rumahnya untuk belajar mengaji ke Haji Ujang. Ia biasanya pergi bersama ketiga adik-adiknya, Puput, Dian, Yuli, mereka selalu nampak rukun.
Waktu, bulan, tahun bergulir dengan cepat. Kini Sri adalah siswa SMA yang sebentar lagi akan menghadapi UN (Ujian Nasional). Bukan rahasia lagi dilingkungan sekolahnya jika ia dikenal sebagai bintang pelajar. Ia kerap mewakili sekolahnya dalam acara-acara cerdas cermat atau lomba yang lain. Seperti dilakukan beberapa hari lalu, ia mewakili sekolahnya dalam acara pemilihan bintang pelajar tingkat kabupaten, sebuah acara yang cukup bergengsi.
Prestasi-prestasi Sri memang cukup membuat iri teman-temannya, selama delapan semester hanya satu ia jatuh di rengking ke dua. Empat semester lainnya ia meraih peringkat satu. Nilainya jauh di atas teman-temannya. Pretasinya membuat kagum banyak orang, tidak mengherankan jika guru-gurunya begitu menyayanginya. Ia selalu menjadi pusat perhatian, baik didalam kelas maupun dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang lain. Sri selalu ramah dan sayang pada teman-temannya. Ia tak pernah menyombongkan diri. Bagi Sri apa yang ia miliki selama ini hanyalah pinjaman dariNya. Ia tak berhak apa-apa selain mensyukuri semua.   Beberapa hari lagi Sri lulus SMA, Pengumuman kelulusan telah di ambang pintu. Bersamaan dengan itu pula, Sri telah memutuskan untuk meninggalkan ruamahnya. Keesokan harinya Sri pergi bersama Ayu ke sekolah untuk melihat pengumuman. Tanpa ia bayangkan sebelumnya, ia masuk dalam sepuluh siswa peraih niali tertinggi. Hari ini juga ia menerima berita bahwa ia telah lolos penelusuran minat dan kemampuan sehingga berhak memasuki perguruan tinggi idamannya. Sri sangat bersyukur atas nikmat Tuhan yang mengalir menyertai hidupnya. Ia lebih semangat menyongsong masa depannya. Kini muncullah dalam benak Sri keinginan mempergunakan ilmunya untuk bekerja. Ia tahu di Jakarta ini banyak tempat-tempat kursus atau lembaga bimbingan belajar untuk SD,SMP, dan SMA. Ia mencoba melamar ke salah satu lembaga bimbingan belajar. Ia tahu, banyak mahasiswa berprestasi dari kampusnya yang bekerja di situ. Mereka kelihatan benar-benar telah mandiri secara ekonomi. Sri ingin mengikuti jejak kakak-kakak tingkatannya dalam mempersiapkan karirnya. Tak buang waktu lagi, Sri segera membuat surat lamaran, daftar riwayat hidup, serta mempersiapkan beberapa foto setengah badan ukuran 4x6. Paginya ia menuju Jalan Setiabudi dan mengumpulkan berkas-berkas itu.
Tiga hari berikutnya, Sri menerima undangan wawancara serta mengikuti tes tulis, Sri berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia buang jauh-jauh prasangka groginya. Dengan percaya diri ia menemui direktur lembaga itu dan menjawab wawancara yang berlangsung sekitar satu jam. Dalam wawancara tersebut Sri diserang dua orang penanya, direktur dan wakilnya. Wawancara menggunakan Bahasa Inggris. Di akhir wawancara, direktur itu yang kemudian ia tahu namanya Pak Ali, mengatakan padanya bahwa pengumuman hasil wawancara akan di sampaikan lewat email. Sri menantikan hasil tesnya dengan berdoa siang malam. Dia tahu, banyak sekali pesaingnya yang turut antri saat wawancara itu. Penampilan mereka begitu meyakinkan. Setelah mengikuti tes, Sri dinyatakan diterima, Sri bersyukur ia ingin bekerja dengan seluruh kemampuannya. Sri semakin sibuk, ia kini menjadi pengajar tetap untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di lemabga bimbingan belajar. Gajinya lumayan sehingga ia merasakan hasil perjuangannya dan ia membiayai sendiri kuliahnya, ia bangga akan hal itu dan ia memang tak suka bergantung kepada orang lain.  
            Tahunpun berganti, Siang itu terasa panas, banyak mobil mewah berjajar dihalaman parkir dekat dekat kantor pusat, orang-orang sibuk berlalu lalang. Suasana dihalaman gedung bertingkat tiga itu tampak sibuk, kursi-kursi undangan telah tertata rapi. Banyak juga undangan yang telah siap ditempat acara sambil mengipas-ngipasi dadanya karena hawa terlalu panas. Tampak ditempat itu para mahasiswa mengenakan baju seragam berwarna hitam yang panjangnya dibawah lutut. Mereka tampat sama dan jumlahnya ribuan. Hanya warna baju  bagian dada saja yang membedakan meeka. Itupun hanya terdiri dari delapan kelompok warga yang berbeda. Kebanyakan mereka berkumpul dengan kelompok masing-masing.
Empat tahun sudah Sri kuliah, hari itulah Sri diwisuda menjadi sarjana Pendidikan Bahasa Inggris. Ia sempat terharu begitu mengenakan toganya. Ia kelihatan cantik dan dewasa. Ia membawa kedua orangtuanya,untuk menyaksikan acara wisuda tersebut. Orangtuanya sempat menitikan air mata saat menyaksikan acara tersebut, Bu Eti sangat bersyukur atas kemurahan rahmatNya dan limpahan rezeki yang telah Allah berikan. Setelah berkunjung kerumah Pak Agus dan Pak Adang, Sri beserta keluarga segera meninggalkan kota Jakarta, mereka langsung menuju rumah mereka di Desa Jasinga. Kini Sri bener-benar telah pulang, ia ingin mengabdi pada desanya serta membalas budi pada orangtuanya. Sri sadar bahwa ia diperlukan dalam pembinaan desanya yang masih terbelakang tersebut, untuk itulah ia bertekad untuk mengabdi di desanya.
Kini Sri telah menjadi pengajar muda di desanya. Ia juga sibuk mengurusi organisasi posyandu di desanya, ia menjadi tempat masyarakat bertanya tentang banyak hal. Dia disegani dan disayangi banyak orang. Dia telah menjadi dian penerang bagi masyarakat disekitarnya. Ditengah suasana yang khitmat itulah orangtua sri terharu  sekaligus terharu atas keberhasilan anaknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar