Berawal
dari sebuah mimpi menjadi sarjana. Ya, suatu hari nanti. Dia yakin kalau dia
akan meraih cita-citanya kuliah di perguruan tinggi dan berfrofesi menjadi guru
di sekolah/ataupun di lembaga pendidikan. Bukankah banyak orang yang sukses
sebelumnya memiliki impian dahulu?
Sri
bukanlah seorang anak yang berasal dari keluarga sederhana, hari-harinya dia
habiskan untuk belajar, beribadah dan membantu orang tua. Sejak kecil dia hobi
membaca sehingga dia pun bertekad untuk melanjutkan sekolah ke tingkat pergurua
tinggi, walaupun dia sadar bahwa utuk mencapai pendidikan tinggi butuh
kerjakeras dan perjuangan besar. Tetapi dia sangat paham apa yang seharusnya
dia lakukan, kegigihan yg selalu dia tanamkan di dalam hati membawanya ke dalam
kebahagian. Sampai seluruh keluarga dan desanya bangga terhadap prsetasi nya
yang telah diraih.
Pagi itu desa jasinga begitu indah. Matahari
baru sejengkal beranjak dari peraduannya. Udara terasa dingin menusuk tulang.
Kabut tipis melayang-layang menambah elok pemandangan didesa . Sepagi itu suara
hiruk pikuk suara penduduk dan binatang ternak telah terdengar disana sini.
Pintu-pintu rumah penduduk telah terkuak. Rupanya penduduk telah bersiap-siap
memulai hari baru mereka. Jalanan telah ramai dengan wanita-wanita desa yang
berangkat ke pasar dengan keranjang besar diatas kepala berisi sayur atau
buah-buahan. Sesekali melintas juga dijalan desa itu petani yang menggiring
sapi atau kerbaunya dengan bajak di pundaknya. Disebelah rumah yang sederhana
yang jauh dari jalan desa itulah Sri lahir dan dibesarkan. Rumahnya berdinding
anyaman bambu yang sudah cukup tua, gentingnya tampak lapuk maklumlah Pak Bisri
ayah Sri hanyalah seorang buruh tani dengan tujuh anak. Hari-harinya dihabiskan
di sawah. Usia Pak Bisri 50 tahun. Pak Bisri menghabiskan waktunya untuk
bekerja demi istri dan anaknya. Ia hampir tak pernah manghiraukan kesehatannya
sendiri. Tak pernah disadari pula bahwa kemampuan bekerja seseorang akan
mengalami masa surut bila masa pengolahan sawah selesai, Pak Bisri bisa mengisi
waktunya dengan berkebun demi menyambung hidupnya.
Kehidupan
keluarga Sri memang cukup memprihatinkan. Ayahnya menanggung hidup tujuh orang
anak tanpa sejengkal tanah warisanpun. Hanya berbekal kejujuran dan semangat
kerja yang tinggi, Pak Bisri mempertaruhkan kehidupan keluarganya. Karena kejujurannya
itu Pak Iman, tetangga sebelah mempercayakan pengolahan sawahnya kepada Pak Bisri
dengan imbalan seperlima dari seluruh hasil panennya. Pak Bisri selalu sibuk
dengan sawah garapannya, apalagi masa garapan tiba. Meskipun demikian, ia masih
harus mempekerjakan beberapa orang pembajak sawah, jika ia kerjakan sendiri
dengan cangkulnya akan memakan waktu terlalu lama. Tanah garapan itu ada beberapa
petak yang lumayan luas.
Apalah
yang bisa di lakukan Sri untuk meringankan beban orangtuanya. Ia masih kecil
utuk mengerti kesulitan-kesulitan hidup. Ia seorang anak periang, tegas,
sekaligus berotak cemerlang. Setiap sore ia pergi ke surau disebrang rumahnya
untuk belajar mengaji ke Haji Ujang. Ia biasanya pergi bersama ketiga
adik-adiknya, Puput, Dian, Yuli, mereka selalu nampak rukun.
Waktu,
bulan, tahun bergulir dengan cepat. Kini Sri adalah siswa SMA yang sebentar
lagi akan menghadapi UN (Ujian Nasional). Bukan rahasia lagi dilingkungan
sekolahnya jika ia dikenal sebagai bintang pelajar. Ia kerap mewakili
sekolahnya dalam acara-acara cerdas cermat atau lomba yang lain. Seperti
dilakukan beberapa hari lalu, ia mewakili sekolahnya dalam acara pemilihan
bintang pelajar tingkat kabupaten, sebuah acara yang cukup bergengsi.
Prestasi-prestasi
Sri memang cukup membuat iri teman-temannya, selama delapan semester hanya satu
ia jatuh di rengking ke dua. Empat semester lainnya ia meraih peringkat satu.
Nilainya jauh di atas teman-temannya. Pretasinya membuat kagum banyak orang,
tidak mengherankan jika guru-gurunya begitu menyayanginya. Ia selalu menjadi
pusat perhatian, baik didalam kelas maupun dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang
lain. Sri selalu ramah dan sayang pada teman-temannya. Ia tak pernah
menyombongkan diri. Bagi Sri apa yang ia miliki selama ini hanyalah pinjaman
dariNya. Ia tak berhak apa-apa selain mensyukuri semua. Beberapa hari lagi Sri lulus SMA, Pengumuman
kelulusan telah di ambang pintu. Bersamaan dengan itu pula, Sri telah
memutuskan untuk meninggalkan ruamahnya. Keesokan harinya Sri pergi bersama Ayu
ke sekolah untuk melihat pengumuman. Tanpa ia bayangkan sebelumnya, ia masuk
dalam sepuluh siswa peraih niali tertinggi. Hari ini juga ia menerima berita
bahwa ia telah lolos penelusuran minat dan kemampuan sehingga berhak memasuki
perguruan tinggi idamannya. Sri sangat bersyukur atas nikmat Tuhan yang
mengalir menyertai hidupnya. Ia lebih semangat menyongsong masa depannya. Kini muncullah
dalam benak Sri keinginan mempergunakan ilmunya untuk bekerja. Ia tahu di Jakarta
ini banyak tempat-tempat kursus atau lembaga bimbingan belajar untuk SD,SMP,
dan SMA. Ia mencoba melamar ke salah satu lembaga bimbingan belajar. Ia tahu,
banyak mahasiswa berprestasi dari kampusnya yang bekerja di situ. Mereka
kelihatan benar-benar telah mandiri secara ekonomi. Sri ingin mengikuti jejak
kakak-kakak tingkatannya dalam mempersiapkan karirnya. Tak buang waktu lagi, Sri
segera membuat surat lamaran, daftar riwayat hidup, serta mempersiapkan
beberapa foto setengah badan ukuran 4x6. Paginya ia menuju Jalan Setiabudi dan
mengumpulkan berkas-berkas itu.
Tiga
hari berikutnya, Sri menerima undangan wawancara serta mengikuti tes tulis, Sri
berusaha mengerahkan seluruh kemampuannya. Ia buang jauh-jauh prasangka
groginya. Dengan percaya diri ia menemui direktur lembaga itu dan menjawab
wawancara yang berlangsung sekitar satu jam. Dalam wawancara tersebut Sri
diserang dua orang penanya, direktur dan wakilnya. Wawancara menggunakan Bahasa
Inggris. Di akhir wawancara, direktur itu yang kemudian ia tahu namanya Pak
Ali, mengatakan padanya bahwa pengumuman hasil wawancara akan di sampaikan
lewat email. Sri menantikan hasil tesnya dengan berdoa siang malam. Dia tahu,
banyak sekali pesaingnya yang turut antri saat wawancara itu. Penampilan mereka
begitu meyakinkan. Setelah mengikuti tes, Sri dinyatakan diterima, Sri
bersyukur ia ingin bekerja dengan seluruh kemampuannya. Sri semakin sibuk, ia
kini menjadi pengajar tetap untuk mata pelajaran Bahasa Inggris di lemabga
bimbingan belajar. Gajinya lumayan sehingga ia merasakan hasil perjuangannya
dan ia membiayai sendiri kuliahnya, ia bangga akan hal itu dan ia memang tak
suka bergantung kepada orang lain.
Tahunpun
berganti, Siang itu terasa panas, banyak mobil mewah berjajar dihalaman parkir
dekat dekat kantor pusat, orang-orang sibuk berlalu lalang. Suasana dihalaman
gedung bertingkat tiga itu tampak sibuk, kursi-kursi undangan telah tertata rapi.
Banyak juga undangan yang telah siap ditempat acara sambil mengipas-ngipasi
dadanya karena hawa terlalu panas. Tampak ditempat itu para mahasiswa
mengenakan baju seragam berwarna hitam yang panjangnya dibawah lutut. Mereka
tampat sama dan jumlahnya ribuan. Hanya warna baju bagian dada saja yang membedakan meeka.
Itupun hanya terdiri dari delapan kelompok warga yang berbeda. Kebanyakan
mereka berkumpul dengan kelompok masing-masing.
Empat
tahun sudah Sri kuliah, hari itulah Sri diwisuda menjadi sarjana Pendidikan
Bahasa Inggris. Ia sempat terharu begitu mengenakan toganya. Ia kelihatan
cantik dan dewasa. Ia membawa kedua orangtuanya,untuk menyaksikan acara wisuda
tersebut. Orangtuanya sempat menitikan air mata saat menyaksikan acara
tersebut, Bu Eti sangat bersyukur atas kemurahan rahmatNya dan limpahan rezeki
yang telah Allah berikan. Setelah berkunjung kerumah Pak Agus dan Pak Adang, Sri
beserta keluarga segera meninggalkan kota Jakarta, mereka langsung menuju rumah
mereka di Desa Jasinga. Kini Sri bener-benar telah pulang, ia ingin mengabdi
pada desanya serta membalas budi pada orangtuanya. Sri sadar bahwa ia
diperlukan dalam pembinaan desanya yang masih terbelakang tersebut, untuk
itulah ia bertekad untuk mengabdi di desanya.
Kini
Sri telah menjadi pengajar muda di desanya. Ia juga sibuk mengurusi organisasi
posyandu di desanya, ia menjadi tempat masyarakat bertanya tentang banyak hal.
Dia disegani dan disayangi banyak orang. Dia telah menjadi dian penerang bagi
masyarakat disekitarnya. Ditengah suasana yang khitmat itulah orangtua sri
terharu sekaligus terharu atas
keberhasilan anaknya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar