Selasa, 12 Mei 2020

Menyelami Hikmah Pandemik Virus Corona


Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.
Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran. (Q.S Al-Ashr:1-3)

Masa adalah waktu yang berjalan begitu cepat. Bersama masa segalanya terjadi dan berlalu tanpa terasa, bahkan banyak diantara manusia yang tidak menyadari akan cepatnya masa bergulir. Demikian masa pada kehidupan manusia, sehingga Allah bersumpah atas nama masa. Ketika manusia dengan segala kelemahannya tak mampu hidup sendiri. Berbagai upaya dilakukan untuk memaknai kehidupan. Nyatanya kebersamaan dalam menjalani kehidupan membuat hidup jadi lebih berarti. Pelajaran-pelajaran berharga telah dituak. Dan berserah kepada yang Maha Kuasa adalah pelipur segala.
Perjalanan kehidupan terus bergulir. Pengalaman demi pengalaman dialami. Suka ditingkah duka, gembira di dera nestapa menjadi hal biasa. Kegagalan dan keberhasilan silih berganti sebagai hasil dari usaha. Semuanya adalah anugrah dari sang Pencipta.
Menurut situs WHO, Virus corona adalah keluarga besar virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia corona diketahui menyebabkan infeksi pernafasan  mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah Middle East Respitory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus corona paling baru yang ditemukan adalah virus corona COVID-19. Virus ini termasuk penyakit menular dan baru ditemukan di Wuhan, China pada Desember 2019 yang kemudian menjadi wabah.
Pandemi mematikan tersebut tidak pandang bulu, siapapun orangnya (kaya atau miskin, muda ataupun tua, dan sebagainya) bisa tertular Covid-19. Karenanya, ibadah puasa di tengah wabah Covid-19 me-restart diri manusia agar merenung dan mengingat kembali kekuasaan Allah SWT. Sehebat apapun manusia berencana, Tuhanlah yang menentukan. Selain itu, kita berharap puasa di tengah pandemi tidak hanya mampu menumbuhkan kepekaan spiritual seseorang, namun juga kepekaan sosial. Wujud dari kepekaan sosial ialah sikap empati dan pro-sosial. Empati berarti suatu keadaan di mana orang merasa dirinya berada dalam perasaan atau pikiran yang sama dengan orang lain. Sementara pro-sosial merupakan tindakan moral seperti rela membantu seseorang yang membutuhkan.

Life must be go on, Guys!
Yesterday is a history. Tomorrow is a mystery.
Today is a gift. That’s why we call it PRESENT.

Tiada yanga abadi di dunia ini so let’s cherish every moment. Kita harus menghargai waktu, setiap saat, bahkan setiap detik yang dialami dalam hidup ini.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar