Jumat, 15 Mei 2020

Curahan Hati Dosen


“Lecturing is a type of art, menjadi seorang dosen itu merupakan keputusan.”

Profesi pengajar adalah impian saya sejak kecil, sebagai anak yang senang belajar dan berdiskusi, membuat saya menemukan kenikmatan ketika mengajarkan sesuatu yang saya ketahui kepada orang lain.Tekad untuk menjadi dosen mulai bulat saat saya kuliah dahulu. Pada awalnya, cita-cita saya tidak muluk-muluk, hanya mau bekerja sesuai keterampilan saya. Bagi saya itu sudah cukup. Namun, ternyata Tuhan memberikan jalan lain. Saya akhirnya memutuskan untuk menjadi dosen setelah sarjana. Menurut saya,tidak mudah untuk menjadi dosen. Selain mengajar dan mendidik mahasiswa, dosen juga harus melaksanakan kegiatan penelitian. Menurut saya, apalah arti seorang dosen kalau tidak punya penelitian?  Dosen yang tidak punya penelitian layaknya seperti sayur tanpa garam. Hampa pastinya.
Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Keinginan untuk bekerja pada lingkungan yang low pressure. Dosen dianggap sebagai pekerjaan yang memiliki fleksibilitas tinggi. Anggapan ini bisa saja benar dan bisa juga menjadi kesalahpahaman. Benar, ketika dibandingkan dengan profesi lain di perusahaan-perusahaan yang biasanya dikejar target dan banyak deadline. Waktu yang dimiliki oleh seorang dosen sebenarnya akan lebih banyak tersita di mengajar dan menyiapkan materi ajar. Kemudian, ditambah dengan kegiatan lain yang berhubungan dengan jabatan struktural (bagi yang menjabat). Sisanya dapat memanfaatkannya sesuai dengan minat masing-masing. Bagi dosen yang produktif, sisa waktu kerjanya yang melimpah ini akan menjadi berkah yang luar biasa untuk mengembangkan potensinya di bidang penelitian dan pengabdian. Namun, beberapa orang mengartikan ke-fleksibel-an profesi dosen ini sebagai sesuatu yang negatif. Mereka menganggap bahwa dosen itu tidak perlu masuk setiap hari ke kampus dan jam kerjanya bebas. Anggapan ini salah besar.
Tahun 2016 saya memutuskan untuk menjadi seorang dosen dan mengajar diperguruan tinggi, sadar dengan profesi yang baru saya pun mulai membuka diri untuk banyak bertanya dan berdiskusi dengan teman prihal tugas dan tanggung jawab saya sebagai dosen, banyak hal yang saya dapatkan dari rekan seprofesi, dan akhirnya saya bertekad meskipun begitu banyak tugas tri dharma yang harus saya kerjakan yaitu pengajaran, penelitian. dan pengabdian, tidak membuat saya patah semangat untuk maju menggeluti profesi ini. Saya menyandang profesi ini dengan rasa syukur akhirnya saya ada di profesi ini. Setelah saja jalani nyaman dan sangat tertantang begitu banyak tugas tambahan  dosen di perguruan tinggi membuat saya semakin tertantang untuk bisa mengembangkan potensi saya. Selain mengerjakan kegiatan kampus, saya mulai menulis artikel untuk dipresentasikan di kampus-kampus Indonesia. Pada saat itu saya mengirim artikel ke beberapa universitas di Indonesia dan pada hari berikutnya saya presentasi tentang artikel saya pengalaman pertama menulis artikel jurnal cukup membuat saya tidak percaya diri karena saya pemula dalam menulis. Di tengah-tengah teman-teman satu profesi saya mempresentasikan hasil artikel saya dan banyak diantara dosen dan mahasiswa yang bertanya terkait artikel saya, kemudian saya bisa menjawab dengan lugas apa yang sudah saya tulis dan pada akhirnya presentasi pun selesai dan saya pun kembali ke rumah. 
Sebagai seorang penulis pemula, saya mencoba untuk belajar dan menggali kompetensi saya agar bisa dapat dituangkan dalam tulisan. Pada tahun 2019 awal saya membuat artikel dan di publikasikan di Universitas Prof. Dr. Moestopo pada saat itu adalah kegiatan International Conference on Challanges and Opportunities of Sustainable Environtment Development, lagi dan lagi saya mendapatkan ilmu yang luar biasa akhirnya saya bisa berjumpa dengan teman dosen lain tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dari luar negeri. Suka duka menjadi penulis pemula sebenarnya banyak sekali, salah satu yang terasa adalah bila naskah buku di tolak oleh penerbit. Bagi mereka yang mengalaminya, pasti mereka akan kecewa. Namun, bila kita menyadari bahwa karya tulis yang di tuliskan mengalami banyak kelemahan, maka kita akan segera intropeksi dan memperbaiki naskahnya. Dosen harus memiliki kesadaran menulis. Menjadi dosen yang setiap tahun menelurkan satu buku yang diterbitkan tidaklah mudah di sela-sela kesibukan sebagai dosen. Motivasi dari setiap tulisan yang lahir itu berasal dari kesadaran dan komitmen
Bagi dosen Indonesia, menulis di jurnal internasional kini menjadi trend yang sedang dikejar karena dianggap merupakan pencapaian prestisius bagi insan ilmiah. Bagi saya tidak hanya menulis di jurnal kampus dan jurnal internasional yang terindex bla bal bla..... yang harus saya kembangkan, tetapi dalam penulisan buku jenis apapun harus saya pelajari karena dengan menulis hidup saya akan bahagia. Bukan karena royalti atau salery yang di dapat, melainkan ketenangan dan kebahagiaan batin yang membuat saya bersyukur bisa menjadi penulis. Walaupun saya masih termasuk penulis pemula, dengan keyakinan dan kerja keras, saya yakin akan menjadi penulis profesional. Menurut saya, pekerjaan seorang penulis tidak mudah sebab butuh banyak latihan agar menjadi penulis profesional. Semoga perjalanan saya sebagai penulis dalam menekuni dunia literasidapat menginspirasi banyak orang terutama teman-teman seprofesi dengan saya.
Setelah hampir empat tahun saya berkarya menjadi dosen benar sekali adanya, profesi dosen membuat kita akan “kaya” akan banyak hal. Mapan dalam penghasilan hanyalah sebagian kecil dari berkah mulia lainnya. Selain faktor penghasilan, adanya kenaikan derajat dan status sosial sebagai dosen (You’ll get first level of respect by being a lecturer) tanpa harus diminta. Punya banyak relasi dan koneksi dengan berbagai macam stakeholder seperti pemerintah dan swasta dari dalam atau luar negeri. Bisa mengenal dan menjalin silahturahmi tanpa batas dengan puluhan ribu mahasiswa/i yang pernah mendapat siraman ilmu dari kita sebagai dosen. Mendapat kesempatan berkarya dalam pemenuhan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat secara berkala sangat mendewasakan diri sebagai dosen yang harus terus bertumbuh dan berpikiran terbuka.
Menjadi dosen tidak hanya bicara kuantitas (jabatan, peringkat, background lulusan, dan penguasaan ilmu) semata, tetapi lebih mengedepankan faktor kualitas. Dosen yang amanah akan mengajar dengan persiapan yang baik, tidak hanya mengandalkan materi yang sudah usang apalagi tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Perlu dipahami dengan perubahan karakter mahasiswa yang berasal dari generasi millenial, dosen harus lebih mendepankan pendekatan student-centered learning. Karakter serba instan dan cepat memungkinkan mahasiswa “made in google” yang bisa lebih informatif dari dosennya perihal informasi dan berbagai hal. Akan tetapi, jangan sampai dosen “ketinggalan zaman” hanya karena malas serta enggan untuk “upgrade diri”. Mempersiapkan diri secara optimal berarti menghargai profesi yang dijalani dan menghargai para mahasiswa/i yang kelak akan menjadi individu sukses kelak. Ingatan mahasiswa akan dosennya akan dikenal sepanjang hidupnya, pastikan rekam jejak menjadi seorang dosen dapat menjadi “kenangan indah”, bukan malah menjadi “mimpi buruk” bagi mereka.
Pendidikan yang sempurna lahir dari proses perubahan yang diselami dengan pendekatan “Intellectual Humility“. Mahasiswa/i yang ada dihadapan dosen sudah sepantasnya diperlakukan sebagai “subjek” perubahan, bukan “objek perubahan”. Dengan memahami sudut pandang ini maka proses transfer ilmu perlu dilakukan dengan cara, gaya dan daya yang memanusiakan mahasiswa/i-nya. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah dengan penggunaan bahasa penyampaian bahan ajar yang mudah dimengerti. Pemberian contoh bahan ajar yang dekat dengan dunia mereka dan serta situasi masa kini. Banyak dosen yang lupa bahwa mahasiswa/i hadir kedalam kelas dengan tingkat kematangan (ilmu, emosi, pengetahuan dan kemampuan) yang berbeda. Dosen yang baik, harus sehat jasmani (fisik) dan rohani (mental). Salah satu ujian terberat sebagai dosen ialah “Classroom Management“, ini erat sekali dengan kecerdasan emosi (EQ) seorang dosen. Pintar, cerdas, dan punya latar belakang edukasi yang mumpuni tidak cukup membantu kita menjadi “dosen sukses” di dalam kelas. Perlu adanya kemampuan khusus dalam hal penguasaan serta pengelolaan emosi dalam menguasai mahasiswa/i sebagai penghuni kelas. Terpancing emosi dan mengumbar kemarahan didalam kelas akan menjadi “boomerang” tersendiri bagi dosen.
Versi dosen teladan menurut saya adalah ketika ada dosen yang mampu berdamai dengan hati dan dirinya sehingga tidak sirna termakan sifat egoisme diri. Mahasiswa/i adalah pengamat (observer) terbaik di dalam kelas, just make sure we can gain their heart and attention with an elegant way. Dosen perlu mahir untuk menciptakan suasana yang terbuka dan santai, tetapi tetap tegas dan serius. Seperti layaknya seorang “Conductor” yang memimpin suatu pertunjukan.
 Our class is our own stage & it’s belong to us as a lecturer… to share, to educate, to entertain and to inspire, our best results shown by the students with their “standing applause”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar