“Lecturing
is a type of art, menjadi seorang dosen itu merupakan keputusan.”
Profesi pengajar adalah impian saya
sejak kecil, sebagai anak yang senang belajar dan berdiskusi, membuat saya
menemukan kenikmatan ketika mengajarkan sesuatu yang saya ketahui kepada orang
lain.Tekad untuk menjadi dosen mulai bulat saat saya kuliah dahulu. Pada
awalnya, cita-cita saya tidak muluk-muluk, hanya mau bekerja sesuai
keterampilan saya. Bagi saya itu sudah cukup. Namun, ternyata Tuhan memberikan
jalan lain. Saya akhirnya memutuskan untuk menjadi dosen setelah sarjana.
Menurut saya,tidak mudah untuk menjadi dosen. Selain mengajar dan mendidik
mahasiswa, dosen juga harus melaksanakan kegiatan penelitian. Menurut saya,
apalah arti seorang dosen kalau tidak punya penelitian? Dosen yang tidak
punya penelitian layaknya seperti sayur tanpa garam. Hampa pastinya.
Dosen adalah pendidik
profesional dan ilmuwan dengan tugas utama
mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada
masyarakat. Keinginan untuk bekerja pada lingkungan yang low pressure. Dosen dianggap sebagai pekerjaan yang memiliki
fleksibilitas tinggi. Anggapan ini bisa saja benar dan bisa juga menjadi
kesalahpahaman. Benar, ketika dibandingkan dengan profesi lain di
perusahaan-perusahaan yang biasanya dikejar target dan banyak deadline. Waktu yang dimiliki oleh
seorang dosen sebenarnya akan lebih banyak tersita di mengajar dan menyiapkan
materi ajar. Kemudian, ditambah dengan kegiatan lain yang berhubungan dengan
jabatan struktural (bagi yang menjabat). Sisanya dapat memanfaatkannya sesuai
dengan minat masing-masing. Bagi dosen yang produktif, sisa waktu kerjanya yang
melimpah ini akan menjadi berkah yang luar biasa untuk mengembangkan potensinya
di bidang penelitian dan pengabdian. Namun, beberapa orang mengartikan
ke-fleksibel-an profesi dosen ini sebagai sesuatu yang negatif. Mereka menganggap
bahwa dosen itu tidak perlu masuk setiap hari ke kampus dan jam kerjanya bebas.
Anggapan ini salah besar.
Tahun 2016 saya memutuskan untuk menjadi seorang dosen dan mengajar
diperguruan tinggi, sadar dengan profesi yang baru saya pun mulai membuka diri
untuk banyak bertanya dan berdiskusi dengan teman prihal tugas dan tanggung
jawab saya sebagai dosen, banyak hal yang saya dapatkan dari rekan seprofesi,
dan akhirnya saya bertekad meskipun begitu banyak tugas tri dharma yang harus
saya kerjakan yaitu pengajaran, penelitian. dan pengabdian, tidak membuat saya
patah semangat untuk maju menggeluti profesi ini. Saya menyandang profesi ini
dengan rasa syukur akhirnya saya ada di profesi ini. Setelah saja jalani nyaman
dan sangat tertantang begitu banyak tugas tambahan dosen di perguruan tinggi membuat saya
semakin tertantang untuk bisa mengembangkan potensi saya. Selain mengerjakan
kegiatan kampus, saya mulai menulis artikel untuk dipresentasikan di
kampus-kampus Indonesia. Pada saat itu saya mengirim artikel ke beberapa
universitas di Indonesia dan pada hari berikutnya saya presentasi tentang
artikel saya pengalaman pertama menulis artikel jurnal cukup membuat saya tidak
percaya diri karena saya pemula dalam menulis. Di tengah-tengah teman-teman
satu profesi saya mempresentasikan hasil artikel saya dan banyak diantara dosen
dan mahasiswa yang bertanya terkait artikel saya, kemudian saya bisa menjawab
dengan lugas apa yang sudah saya tulis dan pada akhirnya presentasi pun selesai
dan saya pun kembali ke rumah.
Sebagai seorang penulis pemula, saya mencoba untuk belajar
dan menggali kompetensi saya agar bisa dapat dituangkan dalam tulisan. Pada
tahun 2019 awal saya membuat artikel dan di publikasikan di Universitas Prof.
Dr. Moestopo pada saat itu adalah kegiatan International Conference on
Challanges and Opportunities of Sustainable Environtment Development, lagi dan
lagi saya mendapatkan ilmu yang luar biasa akhirnya saya bisa berjumpa dengan
teman dosen lain tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dari luar negeri.
Suka duka menjadi penulis pemula sebenarnya banyak sekali, salah satu yang
terasa adalah bila naskah buku di tolak oleh penerbit. Bagi mereka yang
mengalaminya, pasti mereka akan kecewa. Namun, bila kita menyadari bahwa karya
tulis yang di tuliskan mengalami banyak kelemahan, maka kita akan segera
intropeksi dan memperbaiki naskahnya. Dosen harus memiliki kesadaran menulis. Menjadi dosen yang setiap tahun
menelurkan satu buku yang diterbitkan tidaklah mudah di sela-sela kesibukan
sebagai dosen. Motivasi dari setiap tulisan yang lahir itu berasal dari
kesadaran dan komitmen
Bagi dosen Indonesia, menulis di
jurnal internasional kini menjadi trend yang sedang dikejar
karena dianggap merupakan pencapaian prestisius bagi insan ilmiah. Bagi saya
tidak hanya menulis di jurnal kampus dan jurnal internasional yang terindex bla bal bla..... yang harus saya
kembangkan, tetapi dalam penulisan buku jenis apapun harus saya pelajari karena
dengan menulis hidup saya akan bahagia. Bukan karena royalti atau salery yang di dapat, melainkan
ketenangan dan kebahagiaan batin yang membuat saya bersyukur bisa menjadi
penulis. Walaupun saya masih termasuk penulis pemula, dengan keyakinan dan
kerja keras, saya yakin akan menjadi penulis profesional. Menurut saya,
pekerjaan seorang penulis tidak mudah sebab butuh banyak latihan agar menjadi
penulis profesional. Semoga perjalanan saya sebagai penulis dalam menekuni
dunia literasidapat menginspirasi banyak orang terutama teman-teman seprofesi
dengan saya.
Setelah hampir empat tahun saya
berkarya menjadi dosen benar sekali adanya, profesi dosen membuat kita akan “kaya” akan banyak hal. Mapan dalam
penghasilan hanyalah sebagian kecil dari berkah mulia lainnya. Selain faktor
penghasilan, adanya kenaikan derajat dan status sosial sebagai dosen (You’ll
get first level of respect by being a lecturer) tanpa harus diminta. Punya
banyak relasi dan koneksi dengan berbagai macam stakeholder seperti pemerintah
dan swasta dari dalam atau luar negeri. Bisa mengenal dan menjalin silahturahmi tanpa
batas dengan puluhan ribu mahasiswa/i yang pernah mendapat siraman ilmu dari
kita sebagai dosen. Mendapat kesempatan berkarya dalam pemenuhan pengajaran,
penelitian dan pengabdian masyarakat secara berkala sangat mendewasakan diri
sebagai dosen yang harus terus bertumbuh dan berpikiran terbuka.
Menjadi dosen tidak hanya bicara
kuantitas (jabatan, peringkat, background
lulusan, dan penguasaan ilmu) semata, tetapi lebih mengedepankan faktor
kualitas. Dosen yang amanah akan mengajar dengan persiapan yang baik, tidak
hanya mengandalkan materi yang sudah usang apalagi tidak sesuai dengan
perkembangan zaman. Perlu dipahami dengan perubahan karakter mahasiswa yang
berasal dari generasi millenial, dosen harus lebih mendepankan pendekatan student-centered learning. Karakter
serba instan dan cepat memungkinkan mahasiswa “made in google” yang bisa lebih informatif dari dosennya perihal
informasi dan berbagai hal. Akan tetapi, jangan sampai dosen “ketinggalan
zaman” hanya karena malas serta enggan untuk “upgrade diri”. Mempersiapkan diri secara optimal berarti menghargai
profesi yang dijalani dan menghargai para mahasiswa/i yang kelak akan menjadi
individu sukses kelak. Ingatan mahasiswa akan dosennya akan dikenal sepanjang
hidupnya, pastikan rekam jejak menjadi seorang dosen dapat menjadi “kenangan
indah”, bukan malah menjadi “mimpi buruk” bagi mereka.
Pendidikan yang sempurna lahir dari
proses perubahan yang diselami dengan pendekatan “Intellectual Humility“.
Mahasiswa/i yang ada dihadapan dosen sudah sepantasnya diperlakukan sebagai
“subjek” perubahan, bukan “objek perubahan”. Dengan memahami sudut pandang ini
maka proses transfer ilmu perlu dilakukan dengan cara, gaya dan daya yang
memanusiakan mahasiswa/i-nya. Salah satu contoh yang paling sederhana adalah
dengan penggunaan bahasa penyampaian bahan ajar yang mudah dimengerti.
Pemberian contoh bahan ajar yang dekat dengan dunia mereka dan serta situasi
masa kini. Banyak dosen yang lupa bahwa mahasiswa/i hadir kedalam kelas dengan
tingkat kematangan (ilmu, emosi, pengetahuan dan kemampuan) yang berbeda. Dosen
yang baik, harus sehat jasmani (fisik) dan rohani (mental). Salah satu ujian
terberat sebagai dosen ialah “Classroom
Management“, ini erat sekali dengan kecerdasan emosi (EQ) seorang dosen.
Pintar, cerdas, dan punya latar belakang edukasi yang mumpuni tidak cukup
membantu kita menjadi “dosen sukses” di dalam kelas. Perlu adanya kemampuan
khusus dalam hal penguasaan serta pengelolaan emosi dalam menguasai mahasiswa/i
sebagai penghuni kelas. Terpancing emosi dan mengumbar kemarahan didalam kelas
akan menjadi “boomerang” tersendiri
bagi dosen.
Versi dosen teladan menurut saya
adalah ketika ada dosen yang mampu berdamai dengan hati dan dirinya sehingga
tidak sirna termakan sifat egoisme diri. Mahasiswa/i adalah pengamat (observer) terbaik di dalam kelas, just make sure we can gain their heart and
attention with an elegant way. Dosen perlu mahir untuk menciptakan suasana
yang terbuka dan santai, tetapi tetap tegas dan serius. Seperti layaknya
seorang “Conductor” yang memimpin suatu pertunjukan.
Our class is our own stage & it’s belong
to us as a lecturer… to share, to educate, to entertain and to inspire, our
best results shown by the students with their “standing applause”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar